ASSALAMUALAIKUM WR. WB, Selamat datang di purnama-blog, semoga dapat memberi inspirasi dan bermanfaat bagi rekan-rekan pembaca, Aamiin !!!

Monday, March 26, 2018

Ketrampilan Abad 21 di era Disruption

Keterampilan abad 21 meliputi (1) life and career skills, (2) learning and innovation skills, dan (3) Information media and technology skills. Ketiga keterampilan tersebut dirangkum dalam sebuah skema yang disebut dengan pelangi keterampilan-pengetahuan abad 21/21st century knowledge-skills rainbow (Trilling dan Fadel, 2009). Skema tersebut diadaptasi oleh organisasi nirlaba P21 yang mengembangkan kerangka kerja (framework) pendidikan abad 21 ke seluruh dunia. Skema ini menyajikan pandangan menyeluruh tentang keterampilan dan pengetahuan peserta didik abad ke-21.
a.       Life and Career Skills
Menurut Eric Hoffer kita berada dalam masa perubahan besar, Fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi merupakan keterampilan yang penting untuk belajar, bekerja, dan kewarganegaraan. Laju perubahan teknologi memaksa kita semua untuk beradaptasi cepat untuk cara-cara baru berkomunikasi, belajar, bekerja, dan hidup. Peralihan pekerjaan dan karier lebih sering, dan seluruhnya jenis pekerjaan baru yang timbul dari inovasi di berbagai bidang.
Life and Career skills (keterampilan hidup dan berkarier), meliputi:
1)   Fleksibilitas dan adaptabilitas: Peserta didik memiliki kemampuan mengadaptasi perubahan dan fleksibel dalam belajar dan berkegiatan dalam kelompok
2)   Memiliki inisiatif dan dapat mengatur diri sendiri: Peserta didik memiliki kemampuan mengelola tujuan dan waktu, bekerja secara independen dan menjadi peserta didik yang dapat mengatur diri sendiri.
3)   Interaksi sosial dan antar-budaya: Peserta didik memiliki kemampuan berinteraksi dan bekerja secara efektif dengan kelompok yang beragam.
4)   Produktivitas dan akuntabilitas: Peserta didik mampu mengelola proyek dan menghasilkan produk.
5)   Kepemimpinan dan tanggungjawab: Peserta didik mampu memimpin teman-temannya dan bertanggungjawab kepada masyarakat luas.
b.      Learning and Innovation Skills
Kebutuhan pengetahuan pekerja untuk membuat dan inovasi baru terhadap produk dan layanan yang memecahkan masalah nyata dan memenuhi kebutuhan pelanggan nyata adalah kekuatan pendorong utama untuk pertumbuhan ekonomi dan bekerja di abad ke-21. Learning and innovation skills (keterampilan belajar dan berinovasi) meliputi:
1)   Berpikir kritis dan mengatasi masalah: peserta didik mampu menggunakan berbagai alasan (reason) seperti induktif atau deduktif untuk berbagai situasi; menggunakan cara berpikir sistem; membuat keputusan dan mengatasi masalah
2)   Komunikasi dan kolaborasi: peserta didik mampu berkomunikasi dengan jelas dan melakukan kolaborasi dengan anggota kelompok lainnya.
3)   Kreativitas dan inovasi: peserta didik mampu berpikir kreatif, bekerja secara kreatif
c.       Information Media and Technology Skills
Keterampilan teknologi dan media informasi (Information media and technology skills), meliputi:
1)   Literasi informasi: peserta didik mampu mengakses informasi secara efektif (sumber informasi) dan efisien (waktunya); mengevaluasi informasi yang akan digunakan secara kritis dan kompeten; menggunakan dan mengelola informasi secara akurat dan efektif untuk mengatasi masalah.
2)   Literasi media: peserta didik mampu memilih dan mengembangkan media yang digunakan untuk berkomunikasi.
3) Literasi ICT: peserta didik mampu menganalisis media informasi; dan menciptakan media yang sesuai untuk melakukan komunikasi

Read More..

Sunday, March 4, 2018

PENGEMBANGAN PENDIDIKAN VOKASI

Dalam pengemebangan kurikulum pendidikan vokasi mata pelajaran/mata kuliah wajib umum yakni Pancasila, Bahasa Indonesia, Kewarganegaraan dan Agama, harus diajarkan kepada peserta didik dengan memberikan muatan yang mampu menanamkan karakter unggul untuk mendukung daya saing bangsa.  Kemampuan penerapan etika industri diajarkan sebagai bagian pendidikan secara umum (general education) untuk memberikan dasar dan pemahaman tentang kedisiplinan, kualitas kerja profesional, berkomunikasi dan berinteraksi dalam lingkungan kerja juga pemahaman etika profesi dan tahapan kerja serta keselamatan kerja di industri.
Pendidikan vokasi memiliki ciri atau kekhasan dan mengutamakan dalam menerapkan aspek-aspek praktis yang didukung oleh teori yang tepat. Hal ini untuk membedakan terhadap pendidikan akademis yang lebih mengutamakan capaian teoritis didukung aspek praktis. Ketepatan komposisi antara praktek dan teori pendukung menjadi kunci keberhasilan penyelenggaraan proses pendidikan pada pendidikan vokasi. Komposisi praktek lebih dominan dari pada teori menjadi ciri khas pendidikan vokasi.

          Ciri khas pendidikan tinggi vokasi memberikan kemampuan aplikatif dan kemampuan inovatif. Pada titik puncaknya, baik pendidikan tinggi vokasi, profesi dan pendidikan akademik memiliki derajad yang sama namun memiliki domain dan peran yang berbeda untuk saling berkomplementer.  Jenjang pendidikan vokasi pada program pendidikan Diploma1 (D1), Diploma 2 (D2), Diploma 3 (D3) dan Diploma 4 (D4) merupakan program terminasi sebagai satu program utuh, setiap jenjang diploma akan menghasilkan keahlian atau kompetensi sesuai dengan level pada KKNI. Sedangkan jenjang pendidikan vokasi S2 terapan dan S3 terapan merupakan jenjang pendidikan setelah lulus Diploma4 atau sarjana  (S1) terapan.


Daftar Pustaka:
Ristekdikti. (2016). Panduan Penyusunan Kurikulum Pendidikan Vokasi. Jakarta: Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.


Read More..

KARAKTERISTIK KURIKULUM PENDIDIKAN VOKASI


Pendidikan vokasi merupakan sistem yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan secara menyeluruh. Meskipun demikian, kurikulum pendidikan vokasi memiliki karakteristik dan kekhususan tersendiri yang membedakannya dengan sub sistem pendidikan yang lain. Perbedaan ini tidak hanya dalam definisi, struktur organisasi, dan tujuan pendidikannya saja, tetapi terlihat dari aspek lainnya yang berkaitan dengan aspek perencanaan kurikulum. Karakteristik – karakteristik dasar dari kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan yaitu:

1.        Orientasi

Keberhasilan utama dari kurikulum pendidikan vokasi, bukan saja diukur dari pencapaian hasil belajar berupa kelulusan, tetapi pada kemampuan para lulusan kelak di dunia kerja. Asumsi tersebut dilandasi oleh pemikiran bahwa sifat pendidikan vokasi yang merupakan pendidikan untuk penyiapan tenaga kerja, maka dengan sendirinya orientasi pendidikan vokasi tertuju pada output atau lulusan.

2.        Justifikasi

Kurikulum pendidikan vokasi didasarkan pada identifikasi kebutuhan berbagai jenis pekerjaan yang ada di lapangan. Inilah yang menjadi alasan mengapa pendidikan vokasi perlu ”diselenggarakan”. Justifikasi/alasan keberadaan pendidikan vokasi didasari oleh asumsi adanya kebutuhan tenaga kerja di lapangan. Oleh karena itu, yang dimaksud justifikasi di sini adalah justifikasi untuk eksistensi. Pendidikan vokasi ”tidak layak ada” jika di lapangan tidak dibutuhkan tenaga kerja yang akan dididik di sekolah tersebut.

3.        Fokus

Fokus kurikulum pendidikan vokasi tidak hanya pada aspek skill/psikomotorik seperti yang dipahami sebagian masyarakat, akan tetapi kurikulum  membantu siswa untuk  mengembangkan diri dalam seluruh aspek yaitu pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai yang tujuan akhirnya untuk memberikan kontribusi untuk keberhasilan sebagai ”pekerja” atau dengan kata lain siswa dididik untuk memiliki kemampuan yang komprehensif dan simultan sehingga mampu menjadi pekerja yang ”produktif”.

4.        Kriteria keberhasilan di sekolah dan luar sekolah (dual criteria)

Berlainan dengan pendidikan umum, kriteria untuk menentukan keberhasilan suatu lembaga pendidikan vokasi pada dasarnya menerapkan ukuran ganda, yaitu keberhasilan siswa di sekolah (in-school success) dan keberhasilan di luar sekolah (out-of-school success). Kriteria yang pertama meliputi aspek keberhasilan siswa dalam menempuh proses pembelajaran di kelas, sedang kriteria keberhasilan yang kedua diindikasikan oleh keberhasilan performance lulusan setelah berada di dunia kerja.

5.        Hubungan antara sekolah, masyarakat dan keterlibatan pemerintah

Hubungan antara sekolah dan masyarakat lebih khususnya dengan dunia industri merupakan karakteristik yang sangat penting dalam konteks pendidikan vokasi. Peran masyarakat dan pemerintah dalam hal ini sama pentingnya. Masyarakat dan pemerintah memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan pendidikan vokasi. Perwujudan hubungan timbal balik yang menunjang ini mencakup adanya dewan penasehat kurikulum kejuruan (curriculum advisory committee), kesediaan dunia usaha menampung siswa pendidikan vokasi dalam program kerjasama yang memungkinkan kesempatan pengalaman lapangan, informasi kecenderungan ketenagakerjaan yang selalu dijabarkan ke dalam perencanaan dan implementasi program pendidikan.

6.        Kepekaan

Kurikulum pendidikan vokasi memiliki karakteristik lain yaitu kepekaan atau daya suai yang tinggi terhadap perkembangan masyarakat pada umumnya dan dunia kerja pada khususnya, hal ini dimungkinkan karena komitmen pendidikan vokasi yang tinggi untuk selalu berorientasi kepada dunia kerja. Perkembangan ilmu dan teknologi, pasang surutnya suatu bidang pekerjaan, inovasi dan penemuan-penemuan terbaru dalam bidang produksi dan jasa, semuanya itu sangat besar pengaruhnya terhadap kecenderungan pendidikan vokasi. Tidak terkecuali adalah mobilitas kerja baik vertikal maupun horisontal sebagai akibat perkembangan sosial kemasyarakatan yang semuanya harus diantisipasi secara cermat guna menjamin relevansi yang tinggi antara isi pendidikan vokasi dan kebutuhan dunia kerja.

7.        Sarana prasarana dan pembiayaan
            Dalam implementasi kurikulum di pendidikan vokasi, ketersediaan sarana prasarana merupakan sesuatu yang sangat penting. Kelengkapan sarana prasarana akan dapat membantu mewujudkan situasi atau pengalaman belajar yang dapat mencerminkan situasi dunia kerja secara lebih realistis dan edukatif. Bengkel dan laboratorium adalah kelengkapan yang umum menyertai keberadaan/eksistensi pendidikan vokasi, selain pengalaman lapangan yang biasanya tercantum dalam kerangka kurikulumnya. Dalam konteks ini, sering dipertanyakan apakah investasi yang besar di pendidikan vokasi cukup efisien dibandingkan dengan hasilnya.

Daftar Pustaka:
Finch Curtis.R and Crunkilton. (1984). Curriculum Development In Vocational And Technical Education : Planning, Content, and Implementation. Sidney. Allyn and Bacon Inc

Read More..