ASSALAMUALAIKUM WR. WB, Selamat datang di purnama-blog, semoga dapat memberi inspirasi dan bermanfaat bagi rekan-rekan pembaca, amin !!!

Monday, March 26, 2018

Konsep Massive Open Online Courses (MOOCs)


Massive Open Online Courses (MOOCs) menjadi sesuatu yang dibicarakan masyarakat dunia belakangan ini. MOOCs merupakan cara belajar-mengajar baru yang terpusat pada peserta didik dan menggunakan teknologi dengan jangkauan tak terbatas, melewati batas ruang kelas, sekolah, kampus, dan bahkan negara, memungkinkan pembelajar untuk dapat memperoleh pengetahuan dan/atau keterampilan secara gratis dan bahkan diajarkan oleh guru besar dari perguruan tinggi ternama dunia. MOOCs sendiri merupakan salah satu pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered), dimana seperti yang telah berbagai penelitian lakukan bahwasanya pembelajaran yang berpusat pada siswa memiliki berbagai keunggulan. Kelebihan tersebut antara lain pembelajar dapat lebih aktif di dalam mengkonstruksi pengetahuannya, dapat lebih berpikir kritis dan analitis, dapat mengembangkan kemampuan problem solving dan sebagainya.

Pada intinya penyelenggara MOOCs mendapatkan pendapatan dari sertifikasi peserta yang telah menyelesaikan dan lulus suatu mata kuliah daring tersebut. MOOCs memungkinkan peminat “membeli eceran” mata kuliah, perguruan tinggi, dan profesor pengampu mata kuliah. Dengan demikian, MOOCs memperkuat kedudukan “pembeli” sehingga mengubah “pasar” pendidikan tinggi dari “pasar penyedia” menjadi “pasar pembeli”. Bila sekarang kurikulum program studi dirancang oleh perguruan tinggi, pada masa depan bisa jadi “pembeli” yang akan menentukan mata kuliah yang ingin diikutinya di universitas. Dengan kata lain, mereka akan membangun kurikulum pribadi yang tentunya akan sangat beragam.

Perubahan kurikulum sebenarnya telah didahului oleh perubahan dalam metode pembelajaran. Dengan adanya MOOCs maka nantinya kita kan familiar dengan istilah kurikulum pribadi yang mana penentuan isi kurikulum tersebut yang menentukan siswa itu sendiri. Bahkan, kini, guru dan dosen tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu dan pengetahuan, yang maha tahu. Ke depan, kepentingan siswa yang seharusnya menjadi pusat perhatian dan menentukan metode pengajaran yang mana didukung dengan adanya MOOCs tersebut. MOOCs memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan yang diinginkannya dari berbagai sumber. Ini berdampak pada keragaman dalam kurikulum, yang pada gilirannya ditentukan oleh siswa untuk memilih pengetahuan dan keterampilan apa yang diinginkannya, dan dari mana ia memperolehnya.
Read More..

Pembelajaran Di Era Disrupsi


Era disrupsi memberi dampak yang cukup luas dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk tuntutan dalam penyelenggaraan pembelajaran. Salah satu tantangan nyata tersebut adalah bahwa pendidikan hendaknya mampu menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi utuh dan dengan cara belajar-mengajar baru yang terpusat pada peserta didik dan menggunakan teknologi dengan jangkauan tak terbatas, melewati batas ruang kelas, lingkungan industri, dan bahkan belajar dari negara lain, yang memungkinkan peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara gratis. Kompetensi era disrupsi merupakan kompetensi utama yang harus dimiliki siswa agar mampu berkiprah dalam kehidupan nyata pada masa mendatang. Pembelajaran yang mendukung menjadi semakin penting untuk menjamin peserta didik memiliki keterampilan belajar dan berinovasi, keterampilan menggunakan teknologi dan media informasi yang dibutuhkan di dunia usaha dan dunia industri. Berdasarkan Litbang Kemendikbud 2013, abad yang akan datang ditandai dengan banyaknya,1) Informasi yang tersedia dimana saja dan dapat diakses kapan saja, 2) Komputasi yang semakin cepat, 3) Otomasi yang menggantikan pekerjaan-pekerjaan rutin; dan 4) Komunikasi yang dapat dilakukan dari mana saja dan kemana saja. Oleh karena itu menghadapi hal tersebut, model pembelajaran era disruption diklasifikasikan sebagai berikut:

a.      Instruction should be student-centered (Information)

Pengembangan pembelajaran sebaiknya menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa ditempatkan sebagai subjek pembelajaran yang secara aktif mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. Siswa tidak lagi dituntut untuk mendengarkan dan menghafal materi pelajaran yang diberikan guru, tetapi berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, sesuai dengan kapasitas dan tingkat perkembangan berfikirnya, sambil diajak berkontribusi untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang terjadi di masyarakat.

b.      Learning should have context, not komputasi

Materi pelajaran perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Guru mengembangkan metode pembelajaran yang memungkinkan siswa terhubung dengan dunia nyata (real word), dan pembelajaran era disrupsi diarahkan pada merumuskan masalah yang ada bukan hanya menjawab masalah. Guru membantu siswa agar dapat menemukan nilai, makna dan keyakinan atas apa yang sedang dipelajarinya serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Guru melakukan penilaian kinerja siswa yang dikaitkan dengan dunia nyata.

c.       Schools should be integrated with society not Otomasi

Dalam upaya mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, pembelajaran sebaiknya dapat memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya. Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana siswa dapat belajar mengambil peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam lingkungan social dan dapat melakukan pekerjaan spesialis tidak lagi pekerjaan- pekerjaan rutin. Pembelajaran diarahkan untuk melatih berfikir analitis (pengambilan keputusan) bukan berfikir mekanistis (rutin)

d.      Education should be collaborative and Communication

Siswa harus diajarkan untuk bisa berkolaborasi dengan orang lain. Berkolaborasi dengan orang-orang yang berbeda dalam latar budaya dan nilai-nilai yang dianutnya. Dalam menggali informasi dan membangun makna, siswa perlu didorong untuk bisa berkolaborasi dengan teman-teman di kelasnya. Dalam mengerjakan suatu proyek, siswa perlu diajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan talenta setiap orang serta bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri secara tepat dengan mereka.

Guru sebagai fasilitator siswa dalam pembelajaran merupakan hal penting yang diharuskan. Sebab pembelajaran era disrupsi ini didefinisikan sebagai proses belajar yang dibangun untuk mengembangkan kreativitas berfikir yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya untuk meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran. Pembelajaran dapat diartikan sebagai upaya guru untuk memberikan stimulus, bimbingan, pengarahan dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar. Pembelajaran dalam definisi ini bukanlah sebuah proses pembelajaran pengetahuan, melainkan proses pembentukan pengetahuan oleh siswa melalui kinerja kognitifnya. Pembelajaran mengandung dua karakteristik utama yaitu: (1) proses pembelajaran melibatkan proses mental siswa secara maksimal yang menghendaki aktivitas siswa untuk berfikir dan (2) pembelajaran diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berfikir siswa yang pada gilirannya kegiatan berfikir itu dapat membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan yang mereka konstruksi sendiri. Pembelajaran bukan hanya dilakukan sebagai transfer pengetahuan melainkan kegiatan yang harus dilakukan siswa secara aktif dalam upaya membangun pengetahuannya sendiri berdasarkan potensi yang dimilikinya (Abidin, 2014:1). Pada masa disrupsi, pembelajaran seolah-olah semuanya tergantung pada teknologi informasi dan komputasi, namun ada beberapa hal pada pembelajaran yang dapat dilaksanakan tanpa menggunakan teknologi tersebut. Meskipun teknologi informasi dan komunikasi adalah katalis penting untuk memindahkan pembelajaran dari pencarian informasi dimana saja dan kapan saja ke penyerapan pengetahuan namun hal tersebut merupakan alat bukan penentu hasil dalam proses pembelajaran.
Read More..

Kurikulum dan Arah Pendidikan Kejuruan Pada Abad 21 di era disruption


Permasalahan-permasalahan global makin kompleks. Persaingan dunia kerja pun makin kompetitif. Eksploitasi alam, pemanasan global, krisis perekonomian dan kemiskinan adalah hal yang harus diselesaikan di masa yang akan datang. Permasalahan ini tentunya dapat diselesaikan dengan membekali setiap warga negara dengan pendidikan yang bermanfaat di abad ke-21. Twenty-first century skills adalah keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi permasalahan-permasalahan di masa akan datang.

Kebutuhan untuk menguasai 21st century skills, membuat banyak negara di seluruh dunia telah melakukan reformasi pada kurikulum, pengajaran, dan penilaian dengan tujuan yang lebih baik mempersiapkan semua anak untuk kebutuhan pendidikan yang lebih tinggi dari kehidupan dan pekerjaan di abad ke-21 (Darling-Hammond, L. 2012:301). Australia, Finlandia dan Singapura adalah contoh dari beberapa negara yang telah mengembangkan kurikulum yang mengintegrasikan 21st century skills.

Australian Curriculum, Assessment and Reporting Authority (ACARA) yang merupakan lembaga yang mengelola kurikulum di Australia secara nasional telah membuat kebijakan kurikulum untuk mengintegrasikan 21st century skills. Pada kurikulum nasional Australia ACARA telah mengatur adanya 10 kemampuan yang harus ditangani secara nasional yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan abad 21. Kemampuan tersebut adalah literasi Berhitung, literasi informasi dan literasi ICT, keterampilan berpikir, kreatifitas, manajemen diri, kerja dalam tim, pemahaman antar budaya, etika perilaku, and kompetensi sosial (ACARA. 2012: 15)

Finlandia merupakan negara yang paling maju dalam bidang pendidikan apalagi selalu menduduki peringkat pertama pada Programme for International Student Assessment (PISA) selama satu dekade terakhir ini. Dengan memperbaiki sistem pendidikan dimulai dari guru-guru yang sangat bermutu dan juga dengan menerapkan sistem assessment yang sangat kompleks yang meliputi keterampilan berpikir tingkat tinggi dan keterampilan menulis (Darling-Hammond, L. 2012:323). Kurikulum inti nasional Finlandia adalah dokumen yang jauh lebih ramping, tidak lebih dari ratusan halaman yang menjelaskan secara terperinci (misalnya saja, standar penilaian matematika untuk semua nilai dijelaskan sekitar sepuluh halaman). Kurikulum inti ini menjadi panduan guru dalam mengembangkan kurikulum lokal secara kolektif dan penilaian yang mendorong peserta didik untuk menjadi peserta didik yang aktif yang dapat menemukan dan menganalisis (Darling-Hammond, L. 2012:324).

Singapura mempunyai kebijakan lain untuk mengintegrasikan 21st century skills yaitu dengan program project work dan Knowledge and inquiry (Darling-Hammond, L. 2012:329). Project work adalah subjek interdisipliner yang wajib untuk semua peserta didik pra universitas. Ada waktu kurikulum khusus bagi peserta didik untuk melaksanakan tugas-tugas proyek mereka selama periode yang diperpanjang. Sebagai subjek interdisipliner, dibentuk dari pengetahuan dan keterampilan untuk fokus pada hasil interdisipliner dengan mewajibkan peserta didik untuk menggambarkan pengetahuannya dan menerapkan keterampilan dari seluruh domain subjek yang berbeda (Darling-Hammond, L. 2012:329). Tujuan proyek ini adalah memberikan pengalaman langsung pada peserta didik dan juga menjadi evaluasi bagi pemerintahan Singapura. Knowledge and inquiry merupakan program yang dikembangkan oleh pemerintah Singapura untuk membangun Pemahaman tentang alam dan konstruksi pengetahuan, berpikir kritis dan berkomunikasi (Darling-Hammond, L. 2012:332).

Dari contoh ketiga negara maju di atas tampak bahwa arah pendidikan pada abad ke-21 lebih mengutamakan keterampilan yang lebih aplikatif dan berguna di masa depan. Pendidikan di masa akan datang juga mengutamakan nilai-nilai untuk berinteraksi secara global, bekerja dalam tim dan berkomunikasi. Untuk saat ini kemampuan kognitif bukan satu-satunya kemampuan yang harus dikuasai oleh peserta didik. Peserta didik perlu dibekali dengan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan di abad ke-21. Salah satu peran utama pendidikan adalah untuk mempersiapkan para pekerja di masa depan dan warga negara untuk menghadapi tantangan zaman mereka. Pendidikan menjadi kunci untuk kelangsungan hidup ekonomi di abad ke-21.
Read More..