ASSALAMUALAIKUM WR. WB, Selamat datang di purnama-blog, semoga dapat memberi inspirasi dan bermanfaat bagi rekan-rekan pembaca, Aamiin !!!

Tuesday, March 12, 2019

Komponen Pada Sistem HV AC

Sistem HVAC terdiri dari beberapa komponen utama dan komponen pelengkap, dimana setiap komponen memiliki fungsi dan perannya masing-masing untuk menunjang sistem pendinginan maupun sistem pemanasan. Komponen-komponen tersebut yaitu :

Komponen Utama Sistem HVAC
a.      Kompresor
           Kompresor merupakan unit tenaga dalam sistem pendingin. Kompresor akan memompa gas refrigerant dibawah tekanan dan panas yang tinggi pada sisi tekanan tinggi (di kondensor) dari sistem dan menghisap gas bertekanan rendah pada sisi intake (di evaporator). Ada beberapa tipe dari kompresor yaitu 1. Kompresor tipe engkol 2. Kompresor tipe swash plate dan 3. Kompresor tipe through vane. Untuk mobil Karimun Estilo menggunakan kompresor tipe through vane.
Kompresor

Ada 3 kerja yang dilakukan oleh kompresor yaitu :

  1. Fungsi penghisap : proses ini membuat cairan refrigerantdari evaporator dikondensasi dalam temperatur yang rendah ketika tekanan refrigerant dinaikkan.
  2. Fungsi penekanan : proses ini membuat gas refrigerant dapat ditekan sehingga membuat temperatur dan tekanannya tinggi lalu disalurkan ke kondensor, dan dikabutkan pada temperatur yang tinggi.
  3. Fungsi pemompaan: proses ini dapat dioperasikan secara kontinyu dengan mensirkulasikan refrigerant berdasarkan hisapan dan kompresi.

b.      Kopling magnet (Magnetic Clutch)
    Kopling magnet adalah perlengkapan kompresor yang berfungsi melepas dan menghubungkan poros kompresor dengan pulinya yang secara terus menerus diputar oleh engine. Supaya hubungan kompresor dengan motor penggeraknya dapat diputuskan dan dihubungkan (pada saat AC dihidupkan dan dimatikan), maka kita perlu sebuah kopling magnet yang dipasang pada poros kompresor, bersama roda puli.Cara kerja dari magnetic switch ini adalah sebagai berikut :
Magnetic Clutch

1)      Posisi AC Cooler Off
           Puli kompresor akan terus berhubungan dengan putaran mesin melalui tali kipas yang terhubung dengan poros engkol pada saat mesin dihidupkan. Dalam posisi off, maka kompresor tidak akan berputar. Hal ini dikarenakan tidak adanya arus yang mengalir ke kopling magnet untuk menghubungkan atau menyatukan kompresor dengan tenaga mesin (melalui puli). Sehingga kopling magnet tidak bekerja.
Magnetic Switch Pada Posisi Off

2)      Posisi AC Cooler On
              Ketika AC dinyalakan (saklar dalam posisi on) untuk mendinginkan ruangan kabin, maka arus listrik akan mengalir ke stator coil (kumparan stator) kemudian mengubah stator coil menjadi magnet listrik yang akan menarik pressure plate sehingga akan terjadi pergesekan dan saling melekat/mengikat dalam satu unit untuk memutar kompresor.
Magnetic Switch Pada Posisi On


c.      Kondensor
              Kondensor di dalam sistem pendingin merupakan alat yang digunakan untuk merubah gas refrigerant bertekanan tinggi menjadi cairan. Alat tersebut melakukan cara ini dengan menghilangkan panas dari refrigerant ke temperatur atmosfir. Kondensor terdiri dari coil dan fin yang berfungsi mendinginkan refrigerant ketika udara tertiup diantaranya. Kondensor ditempatkan didepan radiator yang pendinginanya dijamin oleh kipas. Untuk refrigrant jenis R-134a menggunakan kondensor jenis parallelflow untuk memperbaiki efek pendinginan udara. Dengan cara itu maka efek pendinginan udara dapat diperbaiki sekitar 15% sampai 20%.
Kondensor

d.      Receiver/Dryer
        Receiver-dryer merupakan tabung penyimpan refrigerant cair yang berfungsi untuk menyaring cairan refrigerant. Receiver-dryer ini berisikan fiber dan desiccant (bahan pengering) untuk menyaring benda-benda asing dan uap air dari sirkulasi refrigerant. Receiver-dryer menerima cairan refrigerant bertekanan tinggi dari kondensor dan disalurkan ke katup ekspansi. Receiver-dryer terdiri dari main body filter, desiccant, pipe, dan side glass. Untuk kendaraan SUZUKI KARIMUN ESTILO menggunakan receiver-dryer yang menyatu dengan kondensor, dan side glass terletar antara kondensor dan katup ekspansi. Hal ini bertujuan untuk menghemat tempat dan membuat konstruksi dari setiap komponen lebih efisien dan tidak memakan tempat. Cairan refrigerant dialirkan ke dalam pipa untuk disalurkan ke katup ekspansi melalui outlet pipe yang ditempatkan pada bagian bawah main body setelah tersaringnya uap air dan benda asing oleh filter dan desiccant.
Receiver-dryer Pada Kondensor Tipe Sub Cool

Sign Glass

Reciever-dryer mempunyau 3 fungsi , yaitu :
1)   Menyimpan refrigerant.
2) Menyaring benda-benda asing dan uap air dengan desiccant dan filter agar tidak bersirkulasi pada sistem AC.
3) Memisahkan gelembung gas dengan cairan refrigerant sebelum dimasukkan ke katup ekspansi.

e.      Katup Ekspansi
             Expansion valve berfungsi untuk menurunkan tekanan dan temperatur refrigerant dan mengalirkannya kedalam evaporator. Expansion valve ini berupa lubang kecil (orifice) konstan atau dapat juga berupa lubang yang diatur melalui katup (valve). Dengan demikian, expansion valve ini menyekat tekanan tinggi kondensor dan tekanan rendah yang terjadi di evaporator. Selain itu juga menyekat suhu tinggi di kondensor dan suhu rendah di evaporator. Pengaturan lubang yang dapat diatur dilakukan perubahan temperatur yang dideteksi oleh sebuah sensor panas yang ditempel pada pipa keluar evaporator.
Katup Ekspansi Box Type

f.      Evaporator
Zat pendingin cair dari receiver-drier dan kondensor harus dirubah kembali menjadi gas dalam evaporator, dengan demikian evaporator harus menyerap panas, agar penyerapan panas ini dapat berlangsung dengan sempurna, pipa–pipa evaporator juga diperluas permukaannya dengan memberi kisi–kisi (elemen) dan kipas listrik (blower), supaya udara dingin juga dapat dihembus ke dalam ruangan. Rumah evaporator bagian bawah dibuat saluran/pipa untuk keluarnya air yang mengumpul disekitar evaporator akibat udara yang lembab. Air ini juga akan membersihkan kotoran–kotoran yang menempel pada kisi–kisi evaporator, karena kotoran itu akan turun bersama air.
Evaporator

g.      Heater Core
         Heater core merupakan komponen sistem pemanas yang berfungsi sebagai penghasil panas yang nantinya akan di hembuskan oleh angin yang berasal dari blower sehingga ruangan kabin akan terasa hangat atau panas. Panas heater core ini berasal dari panas mesin, yaitu bekerja sama dengan sistem pendingin radiator. Heater core bekerja sama dengan sistem pendingin radiator dimana air panas yang keluar dari water jacket disalurkan ke heater core kemudian bersirkulasi kembali ke sistem pendingin radiator tersebut. Ketika termostat sistem pendingin radiator belum bekerja, maka sirkulasi air dalam mesin tetap masuk ke dalam heater core,hal ini dikarenakan penempatan heater core yang dipasang tepat di saluran air panas dari water jacket sebelum kembali disalurkan kembali ke atas.
Heater Core

h.      Motor Blower.
Kegunaannya adalah meniupkan udara ke ruangan dalam penumpang dan mengirimkannya melalui evaporator. Biasanya putaran motor blower terdiri lebih dari satu tingkat kecepatan sampai 3 tingkat kecepatan,  yaitu :
1)      Pada Saat Motor Blower Posisi Off
Ketika sistem HVAC masih dalam keadaan off, maka motor blower tidak akan bekerja, sehingga tidak terjadi sirkulasi udara pada ruangan kabin. Hal ini dibaca oleh semacam amplyfier pada sistem kelistrikan motor blower sehingga tidak mengalirkan arus dan motor blower tidak bekerja.
Blower Pada Posisi Off

2)      Pada Saat Motor Blower Posisi Putaran Rendah
               Ketika sistem HVAC dalam keadaan on dan posisi kecepatan blower pada tingkat low speed (putaran rendah), maka arus akan mengalir dan menghubungkan sirkuit pada posisi low speed pada sistem kelistrikan motor blower sehingga mengakibatkan motor blower berputar pada putaran rendah dan sistem HVAC bekerja.
Blower Pada Posisi Low Speed

3)      Pada Saat Putaran Medium
              Ketika posisi sistem HVAC dipindahkan dari posisi low speed ke posisi midle speed, maka arus yang mengalir dari sumber arus ke motor blower akan setingkat lebih cepat, hal ini dikarenakan arus yang mengalir ke motor blower hanya melewati satu hambatan, sehingga arus yang mengalir ke motor blower lebih cepat dari pada ketika posisi low speed yang melewati dua hambatan.
Blower Pada Posisi Medium Speed

1)      Pada Saat Putaran Tinggi
                 Ketika udara dalam ruangan masih terasa belum cukup dingin, maka kita pasti akan merubah speed sistem HVAC pada posisi high speed sehingga proses pendinginan atau proses pemanasan ruangan akan lebih maksimal, hal ini disebabkan karena arus yang mengalir ke motor blower lebih besar. Dan arus yang mengalir ini tanpa melewati hambatan atau dengan kata lain arus mengalir langsung dari sumber listrik ke motor blower sehingga putaran motor blower pada posisi maksimal.
Blower Pada Posisi High Speed


Read More..

Monday, March 26, 2018

Konsep Massive Open Online Courses (MOOCs)


Massive Open Online Courses (MOOCs) menjadi sesuatu yang dibicarakan masyarakat dunia belakangan ini. MOOCs merupakan cara belajar-mengajar baru yang terpusat pada peserta didik dan menggunakan teknologi dengan jangkauan tak terbatas, melewati batas ruang kelas, sekolah, kampus, dan bahkan negara, memungkinkan pembelajar untuk dapat memperoleh pengetahuan dan/atau keterampilan secara gratis dan bahkan diajarkan oleh guru besar dari perguruan tinggi ternama dunia. MOOCs sendiri merupakan salah satu pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered), dimana seperti yang telah berbagai penelitian lakukan bahwasanya pembelajaran yang berpusat pada siswa memiliki berbagai keunggulan. Kelebihan tersebut antara lain pembelajar dapat lebih aktif di dalam mengkonstruksi pengetahuannya, dapat lebih berpikir kritis dan analitis, dapat mengembangkan kemampuan problem solving dan sebagainya.

Pada intinya penyelenggara MOOCs mendapatkan pendapatan dari sertifikasi peserta yang telah menyelesaikan dan lulus suatu mata kuliah daring tersebut. MOOCs memungkinkan peminat “membeli eceran” mata kuliah, perguruan tinggi, dan profesor pengampu mata kuliah. Dengan demikian, MOOCs memperkuat kedudukan “pembeli” sehingga mengubah “pasar” pendidikan tinggi dari “pasar penyedia” menjadi “pasar pembeli”. Bila sekarang kurikulum program studi dirancang oleh perguruan tinggi, pada masa depan bisa jadi “pembeli” yang akan menentukan mata kuliah yang ingin diikutinya di universitas. Dengan kata lain, mereka akan membangun kurikulum pribadi yang tentunya akan sangat beragam.

Perubahan kurikulum sebenarnya telah didahului oleh perubahan dalam metode pembelajaran. Dengan adanya MOOCs maka nantinya kita kan familiar dengan istilah kurikulum pribadi yang mana penentuan isi kurikulum tersebut yang menentukan siswa itu sendiri. Bahkan, kini, guru dan dosen tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu dan pengetahuan, yang maha tahu. Ke depan, kepentingan siswa yang seharusnya menjadi pusat perhatian dan menentukan metode pengajaran yang mana didukung dengan adanya MOOCs tersebut. MOOCs memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan yang diinginkannya dari berbagai sumber. Ini berdampak pada keragaman dalam kurikulum, yang pada gilirannya ditentukan oleh siswa untuk memilih pengetahuan dan keterampilan apa yang diinginkannya, dan dari mana ia memperolehnya.
Read More..

Pembelajaran Di Era Disrupsi


Era disrupsi memberi dampak yang cukup luas dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk tuntutan dalam penyelenggaraan pembelajaran. Salah satu tantangan nyata tersebut adalah bahwa pendidikan hendaknya mampu menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi utuh dan dengan cara belajar-mengajar baru yang terpusat pada peserta didik dan menggunakan teknologi dengan jangkauan tak terbatas, melewati batas ruang kelas, lingkungan industri, dan bahkan belajar dari negara lain, yang memungkinkan peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara gratis. Kompetensi era disrupsi merupakan kompetensi utama yang harus dimiliki siswa agar mampu berkiprah dalam kehidupan nyata pada masa mendatang. Pembelajaran yang mendukung menjadi semakin penting untuk menjamin peserta didik memiliki keterampilan belajar dan berinovasi, keterampilan menggunakan teknologi dan media informasi yang dibutuhkan di dunia usaha dan dunia industri. Berdasarkan Litbang Kemendikbud 2013, abad yang akan datang ditandai dengan banyaknya,1) Informasi yang tersedia dimana saja dan dapat diakses kapan saja, 2) Komputasi yang semakin cepat, 3) Otomasi yang menggantikan pekerjaan-pekerjaan rutin; dan 4) Komunikasi yang dapat dilakukan dari mana saja dan kemana saja. Oleh karena itu menghadapi hal tersebut, model pembelajaran era disruption diklasifikasikan sebagai berikut:

a.      Instruction should be student-centered (Information)

Pengembangan pembelajaran sebaiknya menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa ditempatkan sebagai subjek pembelajaran yang secara aktif mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. Siswa tidak lagi dituntut untuk mendengarkan dan menghafal materi pelajaran yang diberikan guru, tetapi berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, sesuai dengan kapasitas dan tingkat perkembangan berfikirnya, sambil diajak berkontribusi untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang terjadi di masyarakat.

b.      Learning should have context, not komputasi

Materi pelajaran perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Guru mengembangkan metode pembelajaran yang memungkinkan siswa terhubung dengan dunia nyata (real word), dan pembelajaran era disrupsi diarahkan pada merumuskan masalah yang ada bukan hanya menjawab masalah. Guru membantu siswa agar dapat menemukan nilai, makna dan keyakinan atas apa yang sedang dipelajarinya serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Guru melakukan penilaian kinerja siswa yang dikaitkan dengan dunia nyata.

c.       Schools should be integrated with society not Otomasi

Dalam upaya mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, pembelajaran sebaiknya dapat memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya. Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana siswa dapat belajar mengambil peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam lingkungan social dan dapat melakukan pekerjaan spesialis tidak lagi pekerjaan- pekerjaan rutin. Pembelajaran diarahkan untuk melatih berfikir analitis (pengambilan keputusan) bukan berfikir mekanistis (rutin)

d.      Education should be collaborative and Communication

Siswa harus diajarkan untuk bisa berkolaborasi dengan orang lain. Berkolaborasi dengan orang-orang yang berbeda dalam latar budaya dan nilai-nilai yang dianutnya. Dalam menggali informasi dan membangun makna, siswa perlu didorong untuk bisa berkolaborasi dengan teman-teman di kelasnya. Dalam mengerjakan suatu proyek, siswa perlu diajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan talenta setiap orang serta bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri secara tepat dengan mereka.

Guru sebagai fasilitator siswa dalam pembelajaran merupakan hal penting yang diharuskan. Sebab pembelajaran era disrupsi ini didefinisikan sebagai proses belajar yang dibangun untuk mengembangkan kreativitas berfikir yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya untuk meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran. Pembelajaran dapat diartikan sebagai upaya guru untuk memberikan stimulus, bimbingan, pengarahan dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar. Pembelajaran dalam definisi ini bukanlah sebuah proses pembelajaran pengetahuan, melainkan proses pembentukan pengetahuan oleh siswa melalui kinerja kognitifnya. Pembelajaran mengandung dua karakteristik utama yaitu: (1) proses pembelajaran melibatkan proses mental siswa secara maksimal yang menghendaki aktivitas siswa untuk berfikir dan (2) pembelajaran diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berfikir siswa yang pada gilirannya kegiatan berfikir itu dapat membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan yang mereka konstruksi sendiri. Pembelajaran bukan hanya dilakukan sebagai transfer pengetahuan melainkan kegiatan yang harus dilakukan siswa secara aktif dalam upaya membangun pengetahuannya sendiri berdasarkan potensi yang dimilikinya (Abidin, 2014:1). Pada masa disrupsi, pembelajaran seolah-olah semuanya tergantung pada teknologi informasi dan komputasi, namun ada beberapa hal pada pembelajaran yang dapat dilaksanakan tanpa menggunakan teknologi tersebut. Meskipun teknologi informasi dan komunikasi adalah katalis penting untuk memindahkan pembelajaran dari pencarian informasi dimana saja dan kapan saja ke penyerapan pengetahuan namun hal tersebut merupakan alat bukan penentu hasil dalam proses pembelajaran.
Read More..